Aug 21 2008

Bersabarlah mengenali pasangan Anda

Published by naufal masunika under Jendela Hati

Berapa lama kita harus mengenali calon pasangan kita, sampai kemudian kita memutuskan untuk memilih dia mendampingi hidup kita di sisa usia kita. Adakah orang yang memilih jalur pacaran untuk mengenali pasangannya, dia benar-benar telah mengenali pasangannya ketika mereka memutuskan menikah. Atau justru mereka kecewa ketika pasangannya ternyata tidak sebagaimana yang terlihat kala mereka masih berpacaran. Atau pertanyaannya adakah mereka yang telah ditakdirkan Allah hidup bersanding sebagai pasutri selama bertahun-tahun telah benar-benar mengenal pasangannya? Di kala tidak ada yang tersembunyi karna tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Suatu ketika ada seorang ummahat yang mengeluh kepada istri Ust. Mohammad Fauzil Adzim bahwa sekalipun telah dikarunia 2 orang anak, dia sama sekali merasa belum benar-benar mengenal suaminya. (diceritakan dalam buku Saatnya untuk menikah). Menarik sekali saran beliau, “Berusahalah untuk mengenal pasanganmu secara terus menerus. Jangan pernah merasa sudah mengenal, padahal masih banyak yang belum kamu ketahui tentang pasanganmu”.

Kita dan pasangan kita memiliki sejarah hidup yang berbada, pengalaman hidup yang berbeda dan penghayatan hidup yang berbeda pula atas setiap peristiwa sekalipun untuk peristiwa yang sama. Karena itu, kita tidak bisa mengenalnya kecuali melalui pergaulan yang betul-betul dekat selama bertahun-tahun dan itu hanya bisa dilakukan melalui pernikahan. Bersikap apa adanya, mengetahui apa adanya dan tidak ada ruang untuk berpura-pura kecuali jika karakternya memang demikian.

Seseorang yang telah ditakdirkan Allah berpasangan melalui sebuah ikatan yang benar-benar suci, yakinlah di balik kekurangan dan kelebihan masing-masing, Allah telah menyiapkan pahala untuk keduanya. Ketika keduanya mengikat janji suci semata-mata untuk mengharapkan ridlo Allah. Yakinlah seberapapun persoalan membelit keduanya, Allah akan memudahkannya.

“Maka apabila telah memiliki azzam yang kuat, selanjunya bertawakallah kepada Allah.” (Al-Imron: 159).

No responses yet

Aug 20 2008

Tinggalkan Mereka !

Published by naufal masunika under Catatan Perjalanan

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan dien mereka senda gurau dan main-main. Mereka terpedaya kehidupan dunia.”

Berapa lama kita duduk bersama orang-orang lalai ? Membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan bagi dunianya. Waktu berlalu menguap tanpa makna. Setan mengunci dan menjamu mereka di kamar kelalaian. Memperdaya mereka dengan alunan musik ghibah, kelakar dosa, dan pemandangan angan tak berujung. Seolah hidup mereka masih seribu tahun lagi. Mereka lelap, ketika mata mereka terjaga. Bagaimana halnya dengan tidurnya?

” Katakanlah, “ALLAH”. Kemudian biarkan mereka bermain-main dengan kesesatannya.” (Al-An’am : 91)

Berapa lama kita duduk tafakur, berdzikir dan bertasbih menikmati lezatnya munajat pada-Nya ? Robb yang ketika kita menengadahkan tangan dan memohon pada-Nya, Dia memuji dan memuliakannya. Memberi tanpa meminta kembaliannya. Mengeluarkan kita dari kesulitan, ketika tidak seorangpun mau mengulurkan tangan membantunya.

Biasakanlah untuk bertasbih dan berdzikir padanya, hingga benar-benar terbiasa. Lakukan terus menerus dengan keikhlasan hingga itu menjadi kebiasaan. Karna bersamamu ada Robb yang maha tinggi. Jika kita memohon ampunan pada-Nya, Dia akan mengampuni. Jika kita memohon pada-Nya, Dia akan memberi.

Kita tidak pernah bisa merubah atau memutar jarum sejarah, namun Allah selalu memberikan kesempatan untuk menukarnya dengan kehidupan yang lebih baik. Sesal kemudian tiada berguna, tetapi harapan di masa depan selalu ada.

One response so far

Aug 15 2008

Zawjati….

Published by naufal masunika under Catatan Perjalanan

Ahmad Bukhatir

أُحِـبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ أُحِبُّكِ كَيْفَماَ كُـنْتِ

وَ مَهْمَا كَانَ مَهْمَا صَارَ أَنْتِ حَبِيْبَتِـيْ أَنْتِ

زَوْجَتِيْ أَنْتِ حَبِيْبَتِيْ

حَـلاَلِي أَنْتِ لاَ أَخْـشَى عَذُوْلاً هَمُّهُ مَقْتِيْ

لَـقَدْ أَذِنَ الزَّمَـانُ لَنَا بِوُصْلٍ غَيْـرِ مُنْبَتِّ

سَقَيْتِ الْحُبَّ فِيْ قَلْبِي بِحُسْنِ الْفِعْلِ وَالسَّمْتِ

يَغِيْبُ السَّعْدُ إِنْ غِبْتِ وَيَصْفُو اْلعَيْشُ إِنْ جِئْتِ

نَـهَارِي كَـادِحٌ حَتَّى إِذَا مَا عُدْتُ لِلْبَيْتِ

لَقِيْتُكِ فَانْـجَلَى عَنِّي ضُنَايَ إِذَا تَبَسَّـمْتِ

تَـضِيْقُ بِيَ الْحَياَةُ إِذَا بـِهَا يَوْماً تَبَـرَّمْتِ

فَأَسْـعَى جَاهِدًا حَتَّـى أُحَقِّقَ مَا تَـمَنَّيْتِ

هَـنَائِي أَنْتِ فَلْتَهْنَيْ بِدِفْءِ الْحُبِّ مَا عِشْتِ

فَرُوْحَنَا قَدِ ائْـتَلَفَا كَمِثْلِ اْلأَرْضِ وَ النَّبْتِ

فَيَا أَمَلِيْ وَ ياَ سَكَنِيْ وَيَا أُنْسِي وَ مُلْهِمَتِـيْ

يَطِيْبُ الْعَيْشُ مَهْمَا ضَاقَتِ اْلأَيَّامُ إِنْ طِبْتِ

Aku mencintaimu

Seperti apapun engkau

Bagaimanapun engkau

Apapun yang terjadi

Engkau adalah kekasihku

Isteriku, engkaulah kekasihku

Engkau milikku seutuhnya

Sama sekali, aku tak peduli

Pada orang yang inginnya hanya mencaci

Sudah menjadi takdir kita

Tuk bersama selamanya

Kau siram cinta di hati ini

Dengan pekerti dan kemuliaan budi

Kebahagiaan serasa sirna

Saat kau tiada

Dan hidup ini kembali terang

Saat kau kembali pulang

Siang hari ku melelahkan

Sampai aku pulang dan bertemu denganmu

Saat itu, lenyaplah rasa letihku

Melihat senyum di bibirmu

Saat kau merasa bosan, di suatu hari

Hidup ini serasa sempit sekali

Keringatpun ku peras

Agar apa yang kau inginkan bisa kupenuhi

Kekasihku…

Rasakanlah hangatnya cinta

Selama hidupmu

Jiwa kita telah menyatu

Laksana tanah dan tanaman buah

Engkaulah asaku, ketenangan batinku

Pelembut hatiku dan inspirasiku

Asalkan kau bahagia

Hidup ini serasa indah

Meski semakin hari, hidup ini semakin susah

Translated by: Avivo

One response so far

Aug 07 2008

Allah maha Kaya dan kalian fakir

Published by naufal masunika under Jendela Hati

“Dan Allah maha kaya, sedangkan kalian adalah orang-orang fakir”. (Muhammad: 38)

Kebutuhan dan kefakiran adalah sifat dasar yang melekat pada diri manusia. Karena mereka fakir dan membutuhkan, maka mereka berbuat baik satu sama lain, sebab masing-masing membutuhkan dan mengambil manfaat dari perbuatan tersebut. Tidak bisa dipungkiri, Manusia punya kecenderungan egois, mementingkan diri sendiri dan memiliki pamrih. Ga sepi dari pamrih. Tidak satu perbuatanpun yang dilakukan tanpa adanya tendensi.

Seandainya seseorang tidak membayangkan adanya manfaat, niscaya ia tidak berbuat baik kepada orang lain. Karna pada hakekatnya ia hanya ingin berbuat baik untuk dirinya sendiri. Perbuatan baiknya kepada orang lain hanyalah sarana baginya untuk memperoleh manfaat untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini ada 3 alasan utama seseorang melakukan sesuatu :

Manusia berbuat baik kepada orang lain karena mengharapkan balasan, yang berarti ia membutuhkan balasan atau imbalan atas perbuatan baiknya. Baik itu materi atau pemuasan hasrat duniawinya yang terpenuhi dengan menggunakan orang lain.

Klo tokh bukan karna tendensi itu, bisa jadi ia menginginkan pujian, sanjungan, penghargaan dan rasa terima kasih atas kebaikannya. Untuk memenangkan piala atau predikat tertentu yang terbaik dan ter yang lain misalnya.

Sisi terbaiknya adalah, jika ia berbuat baik untuk mendapatkan balasan dari Allah swt di akhirat. Hanya saja ia menunda pengambilan balasan itu hingga suatu hari ia membutuhkannya. Dengan tujuan ini tidak menjadikannya tercela. Karena dia fakir yang membutuhkan. Dan inilah sebaik-baik motivasi untuk melakukan ato menolak sesuatu. Wallahu’alam

Ramadhan sebentar lagi, hiasi hati dan perbaiki diri. Semoga lebur dosa-dosa sepanjang hari. Tuk meraih ridlo Ilahi. Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadhan…  berkahilah kami di bulanmu yang suci. Amiin

No responses yet

Aug 07 2008

Cinta dan Benci motivasi untuk aksi

Published by naufal masunika under Jendela Hati

Setiap orang tidak bisa mengingkari keinginan tersembunyinya untuk mendapatkan manfaat dan menghindari madharat. Rasa cinta dan benci menjadi motivasi terbesar dirinya untuk berbuat sesuatu atau menolak melakukannya. Dan itu menjadi landasan atas kemauan dan keinginannya.

Ada pepatah mengatakan, manusia itu menjadi musuh atas kebodohannya. Manusia melakukan sesuatu atas dasar ilmu yang dimilikinya atau apa-apa yang diketahuinya. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, maka semakin banyak pilihan aktivitas hidup yang bisa dilakukannya.

Seorang pecinta bola tetapi dia bukan ahli ibadah, dia akan memilih nonton bola dini hari daripada untuk menegakkan sholat, tahajjud dan taqarrub pada-Nya.

Seseorang yang tidak mampu menghafal sekedar satu ayat AlQuran, sudah pastilah dia mampu menghafal yang lain. Bahkan boleh jadi fasih melafalkan lyrics lebih dari satu judul lagu.

Seseorang yang tidak menggunakan sela-sela harinya untuk membaca Al Quran, sudah pastilah dia akan membaca yang lain. Koran misalnya. Waktu telah dihibahkan, bagaimana Anda menginvestasikannya?

Semoga Allah menyampaikan kita pada Ramadhan. Semoga kita bisa memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan itu untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya. Amiin.

No responses yet

Jul 11 2008

Klo ga tahu, kenapa ga nanya?

Published by naufal masunika under Catatan Perjalanan

Aku pernah merasa terganggu dengan pendengaran kiriku yang bermasalah. Padahal aku sudah ada janji untuk menyampaikan materi pembekalan di sebuah ponpes Islam di Lamongan. Dunia benar-benar terasa sepi ketika itu. Aku tidak sanggup membayangkan alangkan tidak-nyamannya para penderita tuna rungu. Aku baru menyadari, betapa mahalnya nikmat Allah. So, nikmat Allah yang manakah yang engkau dustakan? Kalimat itu terus menerus mengiang di kupingku yang mulai berkurang kesadaran… eh, pendengaran. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku memenuhi janji untuk menyampaikan materi dengan pendengaran yang bermasalah. Tidak lupa, aku minta permakluman para peserta, kalo-kalo aku berbicara terlalu keras atau ga peduli kalo-kalo ada interupsi peserta di sela-sela acara, tetapi diabaikan. Maklum agak budi. He..he.. Terngiang lagi peringatan Rasulullah saw, “ada 2 kenikmatan yang kebanyakan manusia dibuatnya terpedaya (lalai), yakni nikmat sehat dan kesempatan.”

Masih soal sakit kupingku, aku merasa ada air yang tertahan di dalam kupingku. Atas saran seorang teman, aku coba mengeluarkannya dengan air pancingan dari luar, tetapi tidak juga beres. Aku coba membersihkannya dengan cotton bud, bukannya membaik malahan terasa sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter. Dokter mengatakan, tidak ada air di kupingku. Mungkin karna perlakuan yang salah terjadi infeksi ringan di telinga. Lantas dokter memberikan sejumlah obat untuk diminum. Dan alhamdulillah beberapa hari kemudian membaik dan sembuh total.

Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian itu adalah, boleh jadi kita merasa bahwa hidup itu sebaiknya begini atau begini. Dengan segala teori yang menurut akal manusia seolah itu baik. Padahal boleh jadi tidak bagi Allah. Karna pengetahuan manusia seluruhnya tidak lebih dari setetes air yang ditumpahkan telunjuk tangan di hamparan samodera tanpa batas. Maka kemudian Allah membimbing manusia melalui rosul-Nya dengan kitabullah, Al-Qur’an al kariim sebagai pedoman hidup. Maka jika manusia hendak menggantinya dengan yang laen dapat dipastikan hidupnya tidak akan bahagia. Segala persoalan yang mendera keluarga, permasalahan yang melilit sebuah bangsa boleh jadi dapat dipastikan dikarenakan keluarga atau masyarakat atau bengsa tersebut terlalu berani memalingkan dirinya dari al-Quran. Sebagiannya atau keseluruhannya. Tidak ada beda.

Jadi, kalo ga tahu, kenapa ga nanya kepada ahlinya?

3 responses so far

Jun 04 2008

DO IT NOW or KOIT NOW

Published by naufal masunika under Jendela Hati

Ada banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan di dunia ini, tetapi itu tidak sebanyak apa yang kita peroleh sejauh ini. Berapapun umur kita, berapapun orang yang telah kita temui hari ini, dimanapun tempat yang pernah kita singgahi dan apapun yang telah dan belum kita lakukan hari ini.

Sungguh, banyak diantara kita yang merasa kehilangan banyak hal. Kesempatan yang berlalu, waktu yang menguap begitu saja, dan keinginan yang berhenti sebatas angan-angan dan cita-cita. Itu bukan karena Ar-Rahman Ar-Rahim (Dzat yang pemurah dan penyayang) pelit mengabulkan permintaan kita. Sama sekali tidak. Mari kita tunjukkan sebagian kesalahan-kesalahannya.

Seberapa besar kesungguhan kita untuk meraih cita-cita dan keinginan di benak kita. Pernahkan kita menempuh jalan untuk sampai di sana. Berapa benyak kesulitan dan hambatan yang mampu kita taklukkan. Atau sebaliknya itu membuat langkah kita surut. Sudahkan kita menghimpun orang-orang yang akan mendukung tercapainya keinginan itu. Sudahkah kita mengerahkan segenap potensi dan sumber daya yang kita miliki? Dan yang terpenting, berapa banyak nikmat-Nya yang telah kita syukuri. Karena Allah hanya akan menambahkan, jika kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya.

Ini baru sedikit catatan saja. Selebihnya, ingatlah, kita semua mempunyai kesempatan yang sama dan waktu yang sama dengan orang-orang yang telah mengukir namanya dalam sejarah. Siapapun dia, apapun dia. Para ilmuwan dan cendekiawan dengan segala penemuan serta karya fenomenalnya. Orang-orang shalih (salafus-shalih) yang mampu menghafal Al Quran dan ribuan hadist. Mereka pun memiliki 24 jam dalam satu hari. Dan jika kita seusia mereka dengan segala prestasinya, maka sungguh kita bukanlah apa-apa. Mungkin ini tidak benar, tetapi sebagian besar kita pasti membenarkannya. Inilah kondisi kita… keadaan kita. Apakah kita akan membiarkan hidup di dunia yang sekali ini sekedar untuk menggenapi jumlah penduduk bumi ? Kalau demikian apa bedanya kita dengan sebutir debu di tengah hamparan padang sahara.

Maka, Jika kita memiliki cita-cita yang besar dan kemauan yang tinggi akankah kita menundanya hingga ajal menjemput ? Dan tidak seorang pun mengenal kita, melainkan tetangga sebelah rumah saja. atau sedikit lebih banyak dari itu.

Barangkali anda tidak harus menjadi terkenal, namun boleh jadi karya anda menjadi masyhur dan kemudian orang-orang berkata : Semoga Allah merahmatinya. Di sepanjang doa-doanya. Betapa baiknya jika demikian. So ….. DO IT NOW or KOIT NOW AS NOTHING. (lakukan sekarang atau mati sekarang tanpa melakukan apa-apa -maap English-na buruk bangetz)

8 responses so far

Feb 26 2008

Keimanan menghapuskan keresahan

Published by naufal masunika under Jendela Hati

Keimanan menghapuskan keresahan, dan melenyapkan kegundahan. Keimanan adalah kesenangan yang diburu oleh orang-orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang-orang yang ahli ibadah.

Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram, dosa akan diabaikan, Allah akan menjadi ridha, dan tekanan hidup akan terasa ringan.

Terimalah qadha’ yang telah pasti dan rezeki yang telah dibagi itu dengan hati terbuka. Segala sesuatu itu ada ukurannya. Karenanya, enyahkan kegelisahan.

Ketika waktu pagi tiba, jangan menunggu sampai sore. Hiduplah dalam batasan hari ini. Kerahkan seluruh semangat yang ada untuk menjadi baik hari ini.

Biarkan masa depan itu hingga ia datang sendiri, dan jangan terlalu berkepentingan dengan hari esok. Karena jika Anda melakukan yang terbaik hari ini maka hari esok juga akan baik.

Jangan menanti ucapan terimakasih dari sesama. Cukuplah pahala dai Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tak ada yang harus Anda lakukan terhadap orang yang membangkang, mendengki, dan iri.

Yang lalu telah berlalu, dan yang telah pergi telah mati. Jangan dipikirkan yang telah lalu karena telah pergi dan selesai.

5 responses so far

Feb 21 2008

Semakin dekat

Published by naufal masunika under Khotbah

Kehidupan di dunia hanyalah awal dari sebuah perjalanan seseorang sedangkan sisa perjalanannya menjadi tanah di dalam kubur dan akhir perjalanannya berdiri di hadapan Rabb-nya. Inilah sebuah perjalanan menuju Allah dan kampung akhirat. Perjalanan ini sekali-kali tidak akan berhenti selain di surga atau neraka.

Pernahkah kita sadari ? Harta dan kekayaan yang dititipkan Allah kepada kita, anak-anak penyejuk hati yang diamanahkan Allah untuk menjaganya, yang itu semua bagian kecintaan kita di dunia. Setiap hari itu semua kian menjauhi kita. Waktu terus berjalan, usia kian bertambah, kenyataannya meninggalkan kita, tanpa bisa kita memanggil kembali.

Alam akhirat yang tidak mampu kita bayangkan, kematian yang tidak tahu pasti kapan datangnya, kenyataannya setiap hari menghampiri dan mendekati kita, tanpa bisa kita tolak.

Maka, merugi mereka yang tidak mempersiapkan diri. Merugi mereka yang dianugerahi harta dan anak-anak, namun tidak mengantarkannya kepada kehidupan yang hakiki, kebahagiaan yang abadi dan negeri yang kekal abadi. Merugi jika itu semua tidak mendatangkan keselamatan dan ketentraman.

Bila memikirkan itu semua, kalau bukan karena rahmat Allah, kemurahan Allah, dan pengampunan-Nya, kita tidaklah layak menjadi ahli surga-Nya. Karna rahmat dan ampunan Allah-lah yang menjadikan hidup kita menjadi bermakna. Dan Allah menyediakan tempat untuk kita di surga-Nya. Semoga Allah meridloi amal ibadah kita. Amin

2 responses so far

Feb 15 2008

Hanyalah seorang hamba..

Published by naufal masunika under Khotbah

Manusia adalah hamba Allah, diciptakannya langit, bumi, para malaikat, manusia, siang dan malam, timbangan amal, shirat (titian), surga dan neraka oleh Allah adalah demi tegak dan terwujudnya tujuan ini : menghambakan manusia kepada Tuhannya. Alam ini tidak diciptakan Allah dengan percuma.

“Dan tidaklah Aku menciptakan langit dan bumi serta segala yang berada diantara keduanya sebagai main-main.” (Al Anbiya : 16)

Demikian juga manusia dan jin tidaklah diciptakan sia-sia.

“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu dengan sia-sia (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami.” (Al Mukminun : 115)

Tidaklah mereka diciptakan tanpa maksud, hikmah dan sesuatu yang dituntut dari mereka.

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”

Sesungguhnya manusia itu sudah tabiatnya harus menjadi hamba, baik ia suka atau enggan. Ini adalah tabiat yang mendasar dan berakar dalam dirinya, yang tdak mampu dirubahnya. Ia harus memiliki ketundukan, kecintaan, ketakutan dan harapan yang merupakan pengabdian. Maka seluruh jenis ibadah ini harus ditujukan kepada Allah. Kalau tidak kepada Allah, tentu diarahkan kepada selain Allah dan akan diarahkan kepada Tuhan ‘batil’.

Islam mengembalikan manusia yang melarikan diri dari agama lurus ini kepada fitrah yang dijadikan oleh Allah sebagai watak dasar jiwanya, kembali kepada jalannya yang benar. Mengembalikan manusia untuk beribadah kepada Tuhan mereka dalam akidah, syiar-syiar, moralitas, pergaulan, tata hukum serta adat-istiadat mereka.

Manusia wajib mengerti dan menyadari hakekat ini, yaitu sesungguhnya jika mereka lari dari Allah Ta’ala dan dari pengabdian kepada-Nya, maka akan terjerumus ke dalam pengabdian yang nista dan hina, kepada tuhan-tuhan yang tidak mampu memberi manfaat atau mencegah datangnya kerugian. Ini adalah salah satu hukum alam, yang tidak akan dapat dihapuskan oleh seorang manusia, tidak dapat dikoyakkan oleh satu umatpun. Setiap orang yang menyombongkan diri dan tidak mau beribadah kepada Allah akan terjerumus, tidak dapat tidak ke dalam peribadatan kepada selain-Nya. Naudzubillah

No responses yet

Next »